Tradisi “Begalan” pada Masyarakat Banyumas
Begalan adalah satu dari sekian banyak
tradisi yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat di wilayah
Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Begalan menjadi bagian dari adat yang
dilakukan dalam rangkaian resepsi pernikahan. Pelbagai makna makna dan
pesan bagi masyarakat terkadung pada tradisi ini. Begalan berasal dari
kata begal dalam bahasa Banyumas yang memiliki arti rampok atau perampok. Begalan berarti perampasan atau perampokan di tengah jalan.
Tradisi Begalan biasanya dilaksanakan dalam rangkaian
resepsi pernikahan. Jika yang dinikahkan adalah anak pertama dengan
anak pertama, anak terakhir dengan anak terakhir, anak pertama dengan
anak terakhir, dan anak pertama yang perempuan. Pagelaran Begalan pada
resepsi pernikahan dipercaya dapat membawa kebaikan bagi pasangan
pengantin ketika kelak mereka menjalani kehidupan rumah tangga.
Begalan berasal dari kisah pada Adipati Wirasaba.
Saat itu Adipati mempersunting putri dari Adipati Banyumas di hari sabtu
pahing. Laiknya seorang laki-laki yang akan mempersunting seorang
istri, Adipati Wirasaba bersama rombongannya membawa pernak-pernik yang
dibutuhkan dalam acara pernikahan. Di tengah perjalanan, rombongan
Adipati Wirasaba bertemu dengan garong atau rampok yang di Banyumas
disebut begal.
Pesan dalam pelaksanaan begalan yang disimbolkan dengan alat-alat dapur
- Cething
Cheting adalah alat yang digunakan untuk tempat nasi
yang terbuat dari bambu. Cething menjadi simbol bahwa manusia hidup di
masyarakat sebagai mahluk sosial, melakukan semua hal sendiri tanpa
bantuan orang lain dan lingkunganya.
- Centhong
Centhong adalah alat yang digunakan untuk mengambil
nasi. Centhong terbuat dari bahan kayu atau dari bahan tempurung kelapa.
Centhong menjadi simbol seorang yang sudah berumahtangga harus mampu
mengoreksi diri. Harapannya ketika terjadi perselisihan antara suami
istri mereka dapat menyelesaikan dengan baik, mengutamakan musyawarah
mufakat sehingga terwujud keluarga yang sejahtera, bahagia lahir dan
batin.
- Irus
Irus adalah alat untuk mengambil dan mengaduk sayur
yang terbuat dari kayu atau tempurung kelapa. Irus menjadi simbol orang
yang sudah berumah tangga hendaknya tidak tergiur atau tergoda dengan
pria atau wanita lain yang dapat mengakibatkan retaknya hubungan rumah
tangga.
- Siwur
Siwur adalah alat untuk mengambil air yang terbuat
dari tempurung kelapa utuh dengan diberi tangkai kayu atau bambu. Siwur
menjadi simbol orang yang sudah berumah tangga harus dapat mengendalikan
hawa nafsu dan jangan suka menabur benih kasih sayang atau perasaan
cinta kepada orang lain. Siwur juga sering dimaknai oleh masyarakat
banyumas sebagai kependekan kata dari Asihe aja diawur-awur (rasa cintanya jangan ditebar).
- Kukusan
Kukusan adalah alat untuk menanak nasi yang terbuat
dari anyaman bambu berbentuk kerucut seperti gunung. Kukusan menjadi
simbol bagi orang yang sudah berumah tangga agar berjuang untuk
mencukupi kebutuhan hidup semaksimal mungkin.
- Ilir
Ilir adalah kipas yang terbuat dari anyaman bambu,
biasanya berbentuk segi empat. Ilir menjadi simbol bagi seseorang yang
sudah berkeluarga supaya bisa membedakan perbuatan baik dan buruk.
- Ian
Ian adalah alat untuk menaruh nasi pada saat dikipasi
dengan ilir. Ian terbuat dari anyaman bambu yang menjadi simbol atau
melambangkan bumi dimana tempat kita berpijak.
Selain alat-alat di atas, alat-alat yang biasa dibawa dalam begalan juga ada Saringan
yang terbuat dari bambu. Saringan adalah simbol bahwa dalam kehidupan
berumahtangga harus bisa menyaring isu atau kabar, baik kabar baik
maupun kabar buruk dengan sikap. Wangkring juga
menjadi alat pelengkap dalam tradisi Begalan. Wangkring atau pikulan
terbuat dari bambu sebagai simbol dalam kehidupan berumahtangga harus
bisa memikul tanggungjawab bersama sebagai suami dan istri.
Menurut Hadi Suwito, salah satu pemeran Begalan di Kabupaten Banyumas, tradisi
Begalan pada waktu sekarang telah mengalami modifikasi sesuai dengan
perkembangan zaman. Hal itu disesuaikan dengan kondisi masyarakat kini
yang sudah mulai kurang percaya terhadap tradisi atau adat orang Jawa,
atau yang dikenal dengan “kejawen”. Modifikasi Begalan dilakukan
untuk menjaga eksistensi dari tradisi yang sudah mulai pudar di
masyarakat. Nilai-nilai Begalan tetap dipertahankan, walaupun kadang
masyarakat sendiri tidak memahami sepenuhnya nilai yang terkandung di
dalam sebuah tradisi.


